Bakteri PSB (Photosyntetic bacteria ) Solusi untuk kualitas air ikan Lele

 

Bakteri PSB

Penerapan   teknologi   yang   ramah   lingkungan diharapkan   mampu   mengatasi masalah  dalam budidaya  ikan. Salah  satunya  dengan  memanfaatkan Bakteri  fotosintetik (BF)  seperti rhodopseudomonas  palustrisdan rhodobacter  capsulatusdan rhodobacter.Bakteri inimenggunakan energi cahaya untuk proses fotosintesis, menghasilkan senyawa organik  dari  bahan  anorganik,  serta  mengeluarkan  oksigen  sebagai  produk  sampingan (Telaumbanua  et  al.,  2023). Bakteri ini  juga  dapat mencerna  limbah  organik  menjadi biomassa,  yang  dapat  mengurangi  kadar  COD  dan  senyawa nitrogen,  menciptakan ekosistem   yang   lebih   seimbang,meningkatkan   oksigen   terlarut   dan   mendukung pertumbuhan ikan (Munaeni et al., 2022; Salamah and Zulpikar, 2020).

Rhobac dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan bakteri. Rhobac mengandung nutrisi yang cukup tinggi untuk kebutuhan bakteri dan telah dijadikan bahan alternatif untuk pengganti glukosa sebagai sumber karbon dalam media fermentasi. Oleh sebab itu, pada pemberian perlakuan rhobac, konentrasi kimia awal pada limbah organik menjadi sangat tinggi. Konsentrasi amonia, nitrit, dan nitrat pada keseluruhan perlakuan mengalami penurunan, hal ini disebabkan adanya aktivitas bakteri dalam mendekomposisi bahan organik (Pratiwi et al., 2019). 

Pada kolam budidaya penerapan bakteri fotosintetik ini sangat dianjurkan untuk kolam yang pergantian air yang minim. Karena dengan bantuan bakteri ini bahan organik dapat diuraikan tanpa membutuhkan banyak oksigen. Para petani biasanya aplikasi bakteri ini pada titik mati yang berkumpulnya bahan organik dengan harapan mengurangi bau dan bahan organik itu sendiri.

















Untuk aplikasi lapangan seperti untuk perikanan atau pengolahan limbah bisa menggunakan bahan-bahan yang lebih ekonomis dan mudah ditemukan. Metode ini sering disebut sebagai pembuatan kultur PSB (Photosynthetic Bacteria).

​Berikut adalah resep dan bahan praktis untuk membuat kultur Rhodobacter skala lapangan:
​Bahan Utama (Media Tumbuh)
​Untuk wadah berukuran 1,5 liter (botol air mineral besar), Anda membutuhkan:
​- Air: Gunakan air sumur atau air kolam yang bersih. Hindari air PDAM yang mengandung kaporit (jika terpaksa, endapkan dulu 24 jam).
​- Telur (Ayam atau Bebek): 1 butir. Berfungsi sebagai sumber protein dan asam amino.
- ​Vetsin/MSG: 1–2 sendok makan. Berfungsi sebagai sumber nitrogen.
​- Saus Ikan (Opsional tapi sangat disarankan): 1–2 sendok makan. Memberikan aroma dan nutrisi  tambahan yang mempercepat pertumbuhan bakteri.
- ​Bibit (Starter) Rhodobacter: Sekitar 100–200 ml. Menggunakan starter yang sudah jadi akan  mempercepat proses dan mencegah kegagalan (kontaminasi bakteri lain).
​Cara Pembuatan

Pencampuran Nutrisi: Kocok telur, MSG, dan saus ikan dalam satu wadah hingga tercampur rata.
​Persiapan Botol: Masukkan air ke dalam botol transparan hingga hampir penuh (sisakan ruang sedikit untuk starter).

​Memasukkan Bahan: Masukkan 1–2 sendok makan campuran telur tadi ke dalam botol berisi air.
​Inokulasi: Masukkan starter Rhodobacter ke dalam botol.
​Pengisian Penuh: Tambahkan air hingga botol benar-benar penuh (tidak ada ruang udara) agar tercipta kondisi anaerob. Tutup rapat.
​Pengocokan: Kocok perlahan botol agar semua bahan tercampur.

Proses Inkubasi (Pematangan)
​Kunci utama bakteri fotosintetik adalah cahaya matahari.
​Penjemuran: Letakkan botol di tempat yang terkena sinar matahari langsung sepanjang hari.
​Suhu: Pastikan botol tetap hangat. Suhu ideal di lapangan berkisar antara 30°C hingga 35°C.
​Durasi: Biasanya memakan waktu 7 hingga 14 hari.

​Indikator Keberhasilan: Air akan berubah warna menjadi merah tua, merah kecokelatan, atau ungu. Jika warna berubah menjadi hijau gelap atau hitam dan berbau sangat busuk (bangkai), berarti kultur terkontaminasi bakteri lain.

​Tips Penggunaan di Lapangan
​Dosis: Untuk kolam budidaya, dosis umum adalah 1–5 ppm (1–5 liter per 1.000 m^3 air) yang diaplikasikan setiap 3–7 hari sekali pada pagi atau siang hari saat matahari terik.
​Penyimpanan: Simpan sisa kultur di tempat yang tetap terkena sedikit cahaya agar bakteri tetap aktif, namun jangan terlalu panas jika tidak sedang digunakan untuk perbanyakan



PSB yang sudah jadi 



Referensi :

- Pratiwi, N. T. M., Hariyadi, S., Ayu, I. P., Apriadi, T., Iswantari, A., and Wulandari, D. Y. (2019). Pengelolaan Kandungan Bahan Organik pada Limbah Cair Laboratorium ProlingMSP-IPB dengan Berbagai Kombinasi Agen Bioremediasi. Jurnal Biologi Indonesia, 15(1), 89–95. https://doi.org/10.47349/jbi/15012019/89
- Telaumbanua, B. V., Telaumbanua, P. H., Lase, N. K., and Dawolo, J. (2023). Penggunaan Probiotik  Em4  Pada  Media  Budidaya  Ikan:  Review. TRITON:  Jurnal  Manajemen Sumberdaya Perairan, 19(1), 36–42. https://doi.org/10.30598/tritonvol19issue1page36-42

- Salamah,  S.,  and  Zulpikar,  Z.  (2020).  Pemberian  probiotik  pada  pakan  komersil  dengan protein  yang  berbeda  terhadap  kinerja  ikan  lele  (Clarias  sp.)  menggunakan  sistem bioflok. Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, 7(1), 21. https://doi.org/10.29103/aa.v7i1.2388

Hendrawan Bayu Aji S.St.Pi

Lulusan Perikanan dari tambak, feedmill, entrepreneur, dan startup perikanan. Hanya ingin berbagi kisah pengalaman hidup

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama